Kalau mau tahu potensi AI yang sebenarnya, prompt adalah hal yang perlu kamu kuasai!” Pernahkah Anda mendengar hal itu dan jadi penasaran apa itu prompt?
Prompt artinya input komunikasi manusia dengan AI. Bentuknya bisa berupa kata atau kalimat yang dipilih untuk dapat respons yang diharapkan.
Prompt AI bukan hanya membantu Anda menggunakan AI dengan baik, tapi bisa jadi sumber penghasilan sebagai produk digital. Penasaran? Simak artikel ini, yuk!
Daftar Isi
Apa itu Prompt
Prompt adalah input berupa teks yang Anda gunakan untuk berkomunikasi dengan AI, baik yang bentuknya kata, kalimat, atau bahkan paragraf.
Sebuah prompt AI bisa berupa perintah, pertanyaan, pernyataan, sapaan, bahkan tautan.
Tujuan prompt digunakan adalah Anda bisa mendapatkan respon dari AI, baik yang bersifat natural atau sesuai yang Anda inginkan.
Sebuah prompt adalah input yang umumnya banyak digunakan pada chatbot seperti ChatGPT atau Gemini.
Jadi, kalau menggunakan sebuah contoh prompt ChatGPT yang berupa pernyataan seperti Jakarta Panas, inilah jawaban yang mungkin Anda dapatkan:

Artinya, prompt itu memberikan jawaban secara bebas, tanpa Anda menentukan hasil yang diharapkan.
Di sisi lain, prompt AI juga sering digunakan pada sebuah aplikasi kompleks dengan kemampuan AI di dalamnya. Misalnya di aplikasi Grammarly.

Di dalamnya, ada berbagai prompt yang disematkan untuk memastikan AI bisa memberikan jawaban sesuai dengan standar kebutuhan pengguna.
Namun, di artikel kali ini, pembahasannya akan lebih ke prompt AI yang digunakan oleh pengguna di berbagai chatbot, ya.
Dengan begitu, Anda bukan hanya bisa belajar cara membuat prompt yang efektif, tapi juga menjadi ahli yang bisa menjadikannya produk digital. Siap?
Cara Kerja Prompt AI
Secara sederhana, cara kerja prompt adalah memberikan input yang dipahami oleh AI sesuai dengan teknologi yang digunakan.
Jadi, tiap AI kadang membutuhkan prompt yang berbeda. Nah, nantinya, prompt itu akan melewati proses sebagai berikut:
1. Mengurai Input
AI akan mengurai prompt Anda menjadi satuan kata agar lebih mudah dipahami koneksi idenya.
Misalnya: “Siapa nama pemain bola terkenal di dunia?” akan menjadi: “siapa”, “nama”, “pemain”, “bola”, “terkenal”, “dunia”
Lalu, satuan kata itu akan diubah lagi menjadi token alias kumpulan angka. Soalnya, AI adalah komputer yang tidak paham bahasa teks manusia.
2. Memahami Konteks
Dengan satuan kata tadi, prompt AI jadi lebih mudah dipahami konteksnya. Mereka mencari koneksi antara prompt yang diterima dengan database yang mereka miliki.
Itu artinya prompt AI yang keliru otomatis akan membawa AI menemukan data yang keliru.
Selain itu bahasa yang dikenali dari satuan kata yang ada ikut menentukan output yang nantinya diberikan.
3. Merancang Jawaban
Setelah tahu apa yang diminta dan mencari informasi itu di database, AI akan mencoba meramu jawaban yang tepat.
Sebuah prompt yang efektif akan berperan besar dalam membantu AI di proses ini. Makin jelas dan lengkap instruksi yang diberikan, makin baik mereka dalam merancang jawaban.
Jawaban ini kadang juga disesuaikan dengan interaksi sebelumnya yang tidak secara langsung menjadi bagian dari prompt yang sedang direspon.
4. Memberikan Jawaban
AI memberikan jawaban dengan cara menyatukan kembali satuan kata yang terpisah tadi. Semuanya disusun menjadi sebuah output yang sesuai dengan jenis dari AI tersebut.
Jadi, kalau menggunakan ChatGPT atau Gemini, maka jawaban itu akan diterima dalam bentuk teks, seperti kalimat, paragraf bahkan kode pemrograman.
Namun, kalau kamu menggunakan AI seperti Copilot, outputnya bisa saja berupa gambar, seperti contoh prompt di bawah:

5. Melakukan Review
Jangan anggap semua prompt akan seperti yang Anda inginkan. Tiap AI punya kebijakan penggunaan sendiri.
Jadi, bisa saja jawaban dari AI berupa ketika proses “menulis” karena dianggap jawaban itu menyalahi aturan. Misalnya permintaan jawaban terlalu panjang atau membahayakan.
Jenis Prompt AI
Biasanya apa sih jenis prompt AI yang biasa dipakai untuk bisa dapat jawaban akurat sesuai dengan tujuan prompt itu? Ini beberapa di antaranya:
1. Zero-Shot
Ini jenis prompt yang lugas. Jadi, kamu menggunakan perintah atau pertanyaan yang singkat, jelas, dan padat. Contoh prompt zero-shot adalah “Apa itu Font?”
Nantinya, AI akan merespon prompt tadi dengan informasi umum tentang font sebagai sebuah produk digital.
Prompt zero-shot paling pas untuk dapat informasi cepat seperti definisi atau konsep dasar.
2. Few shot
Jenis prompt AI ini juga menggunakan konteks untuk membantu AI memberikan jawaban terbaik. Nah, konteks itu berupa contoh untuk referensi atau ditiru AI.
Misalnya, setelah memberikan beberapa contoh caption Instagram Anda, AI diminta untuk membuat caption dengan topik berbeda.
3. Interaktif
Jenis prompt ini berbeda dengan one-shot. Pengguna sengaja menggunakan sebuah prompt untuk mendapatkan informasi awal, lalu melanjutkan dengan prompt lainnya.
Ini biasanya terjadi pada sebuah pertanyaan atau tugas yang dianggap tak mungkin diselesaikan AI dengan baik menggunakan satu prompt.
Contoh prompt interaktif: “Sarankan kalender konten untuk postingan Instagram saya seputar review produk kecantikan di bulan Maret 2025” Lalu, prompt berikutnya: “Atur jadwal itu dengan lebih banyak postingan di hari Selasa setelah makan siang”
4. Kontekstual
Jenis prompt AI lainnya adalah kontekstual. Jadi, prompt ini menggunakan konteks pemahaman AI di percakapan sebelumnya untuk mendapatkan jawaban yang relevan.
Misalnya setelah kamu bertanya tentang konsep dasar SEO, contoh prompt kontekstual bisa berupa: “Bagaimana cara menerapkan strategi SEO pada sebuah blog tentang teknologi?”
Jawaban AI cenderung menggunakan data dari percakapan sebelumnya, baik gaya bahasa maupun format yang ditentukan untuk informasi baru yang akan diberikan.
5. Reasoning
Jenis prompt ini mirip dengan prompt kontekstual. Jadi, prompt dibuat untuk melengkapi sebuah konteks yang dipahami AI. Bedanya, konteksnya bukan percakapan sebelumnya, tapi data tambahan seperti file, gambar atau tautan.
Sebagai contoh, prompt reasoning bisa berupa: “Mengapa jadwal postingan media sosial saya membuat proses produksi harus bekerja lembur? Apa yang salah?”
Prompt AI ini akan membuat AI melihat data file yang Anda berikan dan mengolahnya jadi jawaban. Prompt ini cocok untuk jenis AI yang lebih canggih.
6. Prompt Kreatif
Jenis prompt ini meminta AI untuk menghasilkan output unik yang bahkan tidak dibayangkan pengguna, biasanya untuk gambar atau penulisan kreatif.
Contoh prompt ini adalah: “Tulis skrip untuk video 3 menit tentang manfaat menggunakan Instagram Reels untuk bisnis kecil.”
Anda sebagai pengguna prompt AI bukan hanya meminta informasi tentang manfaat Instagram Reel, tetapi juga meminta AI untuk kreatif menjadikannya skrip video.
7. Chain-of-Thought
Jenis prompt ini makin populer setelah muncul Deep Seek. Prompt chain of thought bentuknya rantai berpikir, yaitu ada serangkaian ide sebelum inti pertanyaan atau perintah.
Contoh prompt ini adalah: “Kalau saya mau meningkatkan CTR pada blog saya, langkah-langkah apa yang harus saya ambil terkait optimasi judul, meta data, dan lainnya?“
Prompt ini akan memberikan AI kesempatan untuk berpikir runtut demi bisa memberikan jawaban dengan alur yang logis dan relevan.
8. Task Kompleks
Jenis prompt ini adalah perpaduan reasoning dan chain of thoughts, di mana Anda memberikan rangkaian kondisi yang memerlukan bantuan AI untuk solusi.
Di saat sama, Anda menambahkan konteks berupa file atau gambar untuk membantu AI lebih memahami permasalahan.
Sebagai contoh, Anda bisa menggunakan prompt: “Karena engagement terus menurun selama dua bulan, sementara anggaran kian menipis, coba analisa metrik interaksi promosi media sosial tiga bulan terakhir dan sarankan perbaikan untuk campaign mendatang.”
Cara Menulis Prompt AI
Kalau sudah tahu jenis prompt AI dan berbagai contoh prompt, sudah punya gambaran cara menulis prompt, kan? Ini dia langkahnya:
1. Kenali Beragam Tool AI
Cara membuat prompt dimulai dengan mengenali tool AI. Alasannya, tiap tool AI punya cara kerja sendiri dalam mengolah perintah atau input.
Secara teknologi memang sama-sama menggunakan LLM. Namun, tiap perusahaan AI punya kebijakan penggunaan yang menentukan hasil dari prompt yang diberikan.
Bukan itu saja, prompt AI untuk pekerjaan teks seperti prompt ChatGPT dan Gemini perlu pendekatan perintah berbeda dengan Midjourney atau DALL-E 2, kan?
2. Kenali Jenis Prompt AI
Jenis prompt AI menentukan pendekatan komunikasi dan tujuan prompt itu sendiri.
Ada prompt AI yang membantu pekerjaan secara penuh, seperti pembuatan konten. Ada juga yang sekadar pendukung seperti tool riset.
Nah, kesalahan memilih jenis prompt tentunya akan membuat Anda tak bisa menggunakan prompt yang efektif.
Misalnya, untuk cari informasi tren terbaru, Anda tak mungkin kan pakai prompt chain of thought? Alasannya, output yang diharapkan berupa informasi terbaru dan singkat.
3. Rancang Prompt yang Singkat dan Padat
Kunci komunikasi adalah pemahaman. Itu juga berlaku dalam komunikasi dengan AI.
Saat membuat prompt, gunakanlah bahasa singkat dan padat. Maksudnya, semua informasi penting harus ada, tetapi kalimatnya tetap efektif dan perintahnya jelas.
Contoh prompt AI yang tidak mengikuti panduan ini yaitu “Apa pendapatmu tentang Indonesia?“

Prompt ini memang singkat, tapi tidak padat. Jawaban AI yang Anda dapat mungkin sebagian sudah Anda ketahui.
Anda seharusnya menambahkan informasi spesifik seperti lingkup bahasan atau rentang waktu.
Conth prompt-nya: “Dalam 300 kata, berikan pendapat masyarakat dunia tentang Indonesia, terutama dalam hal makanan, budaya dan cara hidup”
4. Tambahkan Konteks untuk Output Terbaik
Prompt adalah kunci Anda dapat jawaban sesuai keinginan. Jadi, kalau ada aturan tertentu yang ingin Anda tambahkan jadikan itu sebagai konteks dari perintah.
Ini merupakan kunci cara membuat prompt yang efektif. Konteks ini bisa berupa sudut pandang peran, topik spesifik, atau bahasa tertentu tanpa menerjemahkan lagi.

Dengan menggunakan konteks yang tepat, Anda jadi tak perlu menggunakan beberapa prompt untuk sebuah hasil lengkap sesuai harapan.
5. Tentukan Formatnya
Bukan hanya konteks, prompt AI juga perlu informasi tentang format untuk hasil terbaik. Terutama, kalau Anda menggunakan beberapa tool AI berbeda.
Coba deh perhatikan. ChatGPT sering memberikan jawaban lengkap, kadang melebihi kebutuhan Anda.
Sementara Gemini jawabannya lebih singkat dan kadang memberikan daftar saja. Kalau jawaban Anda kurang tepat dengan format list, beri tahulah tool AI tersebut.
Prompt AI yang digunakan bisa sesederhana “berikan jawaban dalam bentuk paragraf”. Bisa juga dengan menentukan format jawaban yang sudah dikenali oleh AI.

6. Berikan Contoh Sebagai Prompt
AI adalah teknologi cerdas, tetapi Anda bisa membantunya memahami konteks dengan contoh. Dengan prompt Ai yang tepat, hasilnya bisa lebih memuaskan.
Contoh itu bisa berupa informasi yang Anda tanyakan. Namun, contoh itu bisa berupa output yang Anda inginkan.
Nantinya, Anda bisa tentukan apakah AI akan menggunakan contoh itu secara penuh atau sebagai referensi.
7. Perbaiki Prompt
Tak ada prompt yang sempurna, kok. Itulah kenapa cara membuat prompt selalu diikuti dengan upaya revisi. Bukan saat jawabannya tak sesuai saja, tapi juga saat ada update yang mempengaruhi output.
Bila perlu, Anda bisa coba beberapa prompt untuk berbagai tool AI. Selain itu, eksperimen dengan pendekatan jenis prompt yang beda juga bisa dilakukan.
Intinya, prompt adalah tentang kreativitas dan keahlian teknis. Jadi membuat prompt yang efektif selalu berkembang seiring kemajuan AI itu sendiri.
Cara Menjual Prompt AI Sebagai Produk Digital
Prompt AI yang Anda buat tak harus digunakan sendiri. Ada banyak orang dapat cuan dari jualan prompt sebagai produk digital. Nah, bagaimana cara melakukannya?
1. Kenali Keahlian Prompting Anda
Sebelum menjual prompt AI sebagai produk digital, kenali dulu kemampuan prompting Anda.
Apakah Anda jago prompting untuk ChatGPT, Gemini, Claude? Atau, Anda paling bisa meramu prompt AI untuk membuat gambar dengan AI?
Ingat, nilai produk Anda itu bukan prompt itu sendiri, tetapi output yang dihasilkan. Jadi mustahil Anda bisa punya produk terbaik tanpa tahu berbagai model LLM, jenis AI dan trik menciptakan prompt yang jitu.
2. Hanya Buat Produk Terbaik
Produk digital itu soal kualitas. Prompt adalah salah satu produk yang tanpa output yang baik tidak bisa dianggap produk yang berhasil.
Intinya, prompt AI bukan soal kemasan atau fitur yang diberikan. Sebuah prompt harus memberikan output terbaik yang bisa didapatkan dari AI.
Prompt ChatGPT yang baik misalnya, bisa membuat chatbot tersebut memberikan jawaban yang dengan prompting biasa tak akan mencapainya.
3. Pilih Platform Penjualan
Prompt adalah produk digital baru yang banyak dibutuhkan. Namun, tak semua orang tahu cara mendapatkannya.
Itulah kenapa memilih platform penjualan yang pas, bisa membantu produk Anda laris, lho.
Opsi pertama adalah membuka toko online sendiri. Anda bebas menentukan harga dan membangun branding, tapi harus melakukan semua usaha sendiri.
Mau yang praktis? Platform seperti Utas bisa jadi solusi. Ada sistem pembayaran dan display produk yang mudah. Dengan begitu, Anda bisa fokus pada pembuatan produk.

Yang tak kalah penting, kalau pakai platform sudah ada konsumen di sana. Ini beda dengan toko sendiri yang membuat Anda harus mulai semuanya dari awal.
4. Tentukan Strategi Penjualan
Setelah punya produk bagus dan platform marketplace yang mumpuni, saatnya menentukan strategi penjualan produk digital Anda.
Mau konsep freemium di mana Anda memberikan versi gratis untuk prompt dasar. Lalu upselling dengan jualan versi premium untuk prompt yang lebih canggih?
Atau, Anda mau menjalankan sistem bundling di mana ada beberapa prompt AI dalam satu paket yang Anda buat khusus untuk niche tertentu? Ini bisa jadi pricing strategy yang layak dicoba lho.
5. Promosikan Prompt AI yang Anda Buat
Makin banyak yang tahu produk digital Anda, makin besar potensi penjualannya. Jadi, promosikan produk itu, ya.
Cara mudah bagi pemula adalah promosi media sosial seperti Instagram, TikTok, atau X. Namun, sesuaikan dengan audiens target Anda dulu, ya.
Jangan lupa, sertakan link ke halaman produk digital Anda agar calon konsumen mudah membelinya.
Sesekali, adakan giveaway freemium lalu tawarkan versi premium yang lebih lengkap.
6. Siapkan Layanan Pelanggan
Prompt adalah produk yang bisa dijual secara putus. Namun, tak ada salahnya Anda menyiapkan layanan pelanggan untuk memberikan nilai tambah.
Dengan cara ini, calon konsumen akan lebih percaya untuk membeli produk digital itu. Soalnya, kalau mereka mengalami masalah dengan penggunaannya, bisa bertanya kepada Anda.
7. Berikan Edukasi tentang Prompting
Kalau Anda ingin membangun branding sebagai pakar prompting, berikan edukasi tentang Prompt AI. Jadilah content creator lewat blog, video, atau postingan medsos.
Nantinya, Anda bisa mendapat banyak masukan dari interaksi itu untuk membuat prompt AI yang lebih baik lagi sebagai sebuah produk digital.
Bahkan kalau Anda menggunakan Utas, Anda juga bisa memberikan layanan konsultasi eksklusif berbayar sebagai bentuk produk digital yang baru. Menarik kan?
Baca Juga: Cara Jual Produk Digital
Jadi, Apa itu Prompt AI?
Prompt adalah input yang Anda berikan saat berkomunikasi dengan tool AI seperti ChatGPT. Bentuknya bisa perintah, pertanyaan dan lainnya.
Jawaban terbaik hanya bisa didapatkan dengan prompt yang efektif. Dan itu tidak mudah bagi sebagian orang. Soalnya, perlu skill dan kreativitas untuk melakukannya.
Anda jago membuat prompt AI? Kenapa tidak menjadikannya produk digital dan menjualnya di Utas?
Permintaan untuk produk ini akan terus ada, lho. Soalnya, orang selalu ingin hasil terbaik dari AI tanpa ribet prompting, kan?
Tertarik melakukannya sekarang?
